Friday, February 10, 2012

[B] 9 dari Nadira

Kumcer yang bagus untuk belajar tentang pola hidup wartawan. Penuh. Tidak ada satu pun bagian yang sia-sia. Semuanya terjalin secara mistis, seolah ada benang merah tipis yang menghubungkan setiap bagiannya.

Nina yang menenggelamkan kepala Nadira ke dalam kubangan air seninya. Kemala yang menikah dengan sanggul bunga Seruni, alih-alih Melati. Bram yang memilih Muhamadiyah ketimbang NU gara-gara politik, dan ia mengidolakan Natsir (ini saya tidak paham–saya non-Islam). Nadira yang berusaha mendewakan kemampuan jurnalistik Bram (ayahnya) dikarenakan ayahnya ditugasi menjadi Kepala Periklanan di tempat kerjanya. Arya yang baru memutuskan menikah dengan Amalia setelah 19 (?) tahun berkelana di hutan. Nina yang tinggal di Amerika dan menyurati Nadira untuk pulang menemui Tara. Amalia yang Nina anggap tidak feminis karena memutuskan untuk meninggalkan kuliah Ekonomi-nya di Bandung sedilamarnya dia oleh Arya. Tara, Utara Bayu, yang akhirnya memutuskan memandang ke dalam mata Novena yang mencintainya selama belasan tahun dan mengantarkan undangan pernikahannya kepada Bram. Novena yang menemui si wartawan junior berambut antisisir, Nadira, dan mengajaknya ngobrol dan kemudian menemukan Tara, sang Kepala Biro yang dicintainya sejak magang menjadi wartawan junior di majalah Tera, telah jatuh cinta kepada Nadira.

Nadira, di Kanada, sembilan belas tahun kemudian, akhirnya menyadari dia sebenarnya mencintai Tara.
Tara, di Indonesia, memutuskan menikah dengan Novena secara mendadak.
Alurnya maju. Tapi ditulis dari sudut pandang berbeda yang berganti-ganti. Itulah mengapa buku (Remy Sylado menyebut suatu karya yang terdapat keterkaitan antara satu sama lainnya sebagai ‘buku’) yang seharusnya disebut novel, justru dijadikan ‘kumpulan cerita’. Kirimkan yang mana saja ke media di Indonesia, cerpen-cerpen ini pasti dimuat.

Gantung dan ganjil. Tapi saling terjalin. Fokusnya ada pada psikiater yang fasih membicarakan tentang Seruni dan ibu Nadira yang menikah dan meninggalnya mesti ditemani bunga Seruni.

Monday, January 23, 2012

[R] Bukan Wabah Ulat Bulu

http://www.balairungpress.com/2011/05/bukan-wabah-ulat-bulu/

Minggu (8/5) pagi, bertempat di Fakultas Biologi UGM, Kelompok Studi Entomologi (KSE) UGM menggelar diskusi bertajuk “Serangan Ulat Bulu di Indonesia”.

Diskusi ini merupakan salah satu upaya KSE UGM untuk membahas faktor serangan ulat bulu secara ilmiah. Salah seorang pembicara, Dr. Suputa, M.P., dosen jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, memaparkan dugaan awal penyebab terjadinya serangan dikarenakan silica yang dihasilkan aktivitas gunung api, vegetasi hutan yang semakin langka, berkurangnya jumlah burung pemakan serangga, dan resistensi serta resurgensi hama terhadap zat kimia.

[R] Menyikapi KIK, PATI Somasi Rektor UGM

Selasa (12/4), LBH Yogyakarta, Forum LSM DIY, WALHI DIY, ICM, dan AJI Yogyakarta yang tergabung dalam Pokja Akuntabilitas Pendidikan Tinggi (PATI) melayangkan somasi terbuka pada Rektor UGM. Somasi dilakukan terkait pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan (KIK) yang menimbulkan banyak polemik. “Somasi ini kami lakukan untuk memperkuat tuntutan pencabutan KIK. Tidak hanya intern gerakan mahasiswa UGM, tapi juga pihak eksternal seperti kami,” papar M. Irsyad Thamrin, SH., MH, selaku Direktur LBH Yogyakarta.


Terdapat sembilan poin dasar yang melatarbelakangi dilayangkannya somasi terbuka PATI. Poin penting somasi tersebut terletak pada pemanfaatan dana, transparansi dan akuntabilitas yang dinilai tidak jelas. “Peraturan rektor tersebut tidak menyebutkan pemanfaatan dana KIK untuk apa,” terang Irsyad.

[R] Membedah Jatisaba, Menera Kenangan Tanah Kelahiran

Reportase Peluncuran Buku Jatisaba (pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2010) di FIB UGM.

Senin (14/3) siang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM menggelar acara bertajuk Bedah Novel Jatisaba: Dongeng Etnografis tentang Trafficking. Acara yang diadakan di Auditorium FIB ini menghadirkan sang penulis, Ramayda Akmal. Dalam kesempatan ini, turut hadir Prof. Dr. Heddy Shri-Ahimsa-Putra dan Dr. Aprinus Salam untuk berkomentar seputar novel tersebut.


Novel yang diangkat dari tanah kelahiran Ramayda itu mengupas tragedi kemanusiaan dan menghadirkan kembali kenangan sang penulis di dalamnya. Jatisaba adalah salah satu pemenang unggulan dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, mengalahkan 270 peserta lainnya. Penulisnya merupakan jebolan Sastra Indonesia FIB UGM.

[R] Memetakan Pola Konsumsi Masyarakat Yogyakarta

Reportase untuk Hasil Penelitian Rumah Sinema.

Akhir tahun ini, tak jarang masyarakat perkotaan mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan sekadar untuk memburu sale dan diskon barang-barang dengan brand idaman. Bukan hanya pakaian atau aksesoris, potongan harga untuk segala komoditas yang membantu meningkatkan penampilan dari rambut hingga mata kaki pun kian diburu. Pada hari-hari biasa, bahkan penggunaan barang-barang dengan brand tertentu sudah latah dianggap lazim.

Khalayak (mass market) zaman ini memang begitu mudah terpancing oleh iklan besar-besaran (mass advertising) dari ragam produk yang dijual secara massal (mass product). Apresiasi berlebihan terhadap iklan ini utamanya terjadi pada kalangan remaja. Berkat iklan, penggunaan perlengkapan mandi, tata rias kecantikan, aksesoris dan gaya pakaian yang mengikuti ‘musim’ di kalangan remaja hampir selalu mewabah.

Iklan adalah bentuk komunikasi pemasaran untuk memberi kesan baik mengenai produk tertentu. Sementara itu, sebagian besar remaja (16-18 tahun) dinilai belum punya banyak pengalaman terhadap apa yang ditayangkan media. “Sekarang ini, penting untuk melihat sejauh mana masyarakat, terutama remaja Yogyakarta, mengapresiasi media,” ujar kepala Komisi Penyiaran Indonesia Daerah—DIY (KPID DIY), S. Rahmat M. Arifin.

Bagi para remaja itu, mengikuti perkembangan zaman dengan membeli produk-produk bermerk dapat meningkatkan prestise di kalangan seusia. Dengan demikian, mereka merasa mampu mengejar cepatnya laju modernitas. Padahal, tujuan utama iklan adalah memangkas hubungan subyek-obyek konsumsi. “Ketika hubungan terputus, masyarakat hanya bisa menjadi konsumen, menjadi obyek, tidak bisa memproduksi, itu ciri masyarakat kosmopolitan, bukan masyarakat modern.” Ungkap panelis KPID DIY, Ahmad Ghozi Nurul Islami.

Menurut Ahmad, masyarakat modern menuntut ketersambungan antara subyek dengan obyek konsumsi. Seberapa banyak yang dikonsumsi semestinya sejalan dengan apa yang kemudian diproduksi. Itulah yang tidak ia temukan pada pola konsumsi masyarakat perkotaan dewasa ini. “Selama ini kita menganggap iklan adalah sesuatu yang biasa. Masak bisa iklan niaga yang semestinya cuma mendapat jatah maksimal 20% untuk ditayangkan, di bulan Ramadhan menyentuh 50%.  Kan, artinya ada masyarakat yang dijarah cuma untuk kelangsungan usaha media.”

Oleh karenanya, literasi iklan, yakni kemampuan mengenali dan memahami apa yang terkandung dalam iklan, sudah barang tentu menjadi penting. Untuk itu, menurut representatif Rumah Sinema, Firly Anisa, masyarakat perlu memahami logika konstruksi iklan. Dilatarbelakangi tujuan tersebut, tim Rumah Sinema mengadakan penelitian untuk mengukur kemampuan penyerapan iklan pada murid SMA/sederajat di Yogyakarta. Tim peneliti adalah Dyna Herlina Suwarto, Kurniawan Adi Saputro, Prastowo Ragawi, dan Nurkusuma Hidayati.

Hasil penelitian didiseminasikan pada Rabu (28/12) siang, bertempat di Plaza Informasi KPID DIY, di mana tim Rumah Sinema bekerja sama dengan KPID DIY menyelenggarakan seminar bertajuk Pengembangan dan Pengujian Skala Literasi Iklan. Dalam kesempatan ini, dijelaskan mengenai tingkat literasi masyarakat Yogyakarta dan dilakukan pengenalan ‘kuesioner literasi iklan’ yang dapat digunakan kembali oleh peneliti yang berminat. Kuesioner tersebut dapat dipergunakan sebagai alat ukur untuk mengetes tingkat literasi iklan.

[R] Jalan Metamorfosis Goenawan Mohamad

Puluhan tahun silam, seorang juru warta meliput pemakaman agung Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Cerita pemakaman tersebut ia kisahkan dalam artikelnya dengan judul Duh Gusti, yang judulnya menjadi sampul majalah Tempo pada 1989. Jelaslah pengalaman saat itu masih ia rekam dalam memori karena hampir seperempat abad kemudian ia menuangkannya dalam naskah orasinya, “Hujan yang tumben turun, teja bewarna putih yang tampak di langit Imogiri, dua burung hitam di tembok makam. Apa yang dilihat para reporter saat itu barangkali kini akan dibaca sebagai sebuah fantasi atau ilusi.


Petikan itu tertulis dalam naskah orasi yang ia bacakan pada malam penganugerahan penghargaan Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada pada acara puncak Dies Natalis ke-62 UGM. Setelah sebelumnya, pagi (19/12), rektor UGM, Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., memberikan penghargaan tersebut di Grha Sabha Pramana UGM.


Sunday, January 22, 2012

[Cerpen] Tentang Laki-laki dengan Semilyar Perbedaan dan Satu Kesamaan

 Aku dan temanku itu berbeda agama. Ia memandang rendah pers mahasiswa dan aktivis kampus, sekalipun aku menggeluti kedua peran itu. Ia kakak tingkatku yang menelantarkan jatah waktu kuliahnya hingga hampir di-DO, sementara aku tetap lebih mementingkan kuliahku di atas segala aktivitas kampus. Kalau kurangkum hal-hal yang selama setahun ini kami bicarakan, aku akan kembali mendapati bahwa hampir-hampir tak ada satu kesamaan pun di antara kami.

Kecuali, ternyata, ketika kami semestinya sama-sama diwisuda di periode yang sama, pada jam-jam di mana seharusnya kami menunggu di gedung kampus dengan aku berpakaian kebaya dan ia rapi dengan jasnya, untuk duduk lama menanti kesempatan pemindahan tali toga, aku justru bertemu dengannya di perpustakaan. Buku-buku lapuk bertumpuk di hadapannya.

Terlepas dari semiliar perbedaan dan satu kesamaan kami yang baru kutemukan hari itu, kami sebenarnya sangat akrab. Aku memiliki banyak panggilan untuknya. Ia bercita-cita menjadi penulis maka kupanggil ia Tuan Penulis, lahir pada Shio Kelinci maka kujuluki ia Kelinci, dan ia selalu mengaku sebagai alien dan kusebut ia Alien. Ia pun demikian, ia memiliki sejuta panggilan untuk peran-peran yang kulakukan dalam keseharianku: Nona Jurnalis, Nona Perdamaian, dan pernah satu kali ia memanggilku Nyonya Alien; meski saat itu ia bilang ia salah sebut.

“Membaca Wilde lagi?” tanyaku, mengambil tempat di hadapannya.

“Kamu tak wisuda hari ini?”

Beginilah bila kami berbicara, aku akan memulai dari A, namun ia tidak akan menjawab B, melainkan Z. Pernah satu kali kupikir hal seperti inilah kelak yang akan aku rindukan dari orang-orang yang kukenal, keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh siapapun lagi.

“Oscar Wilde itu gay, lho,” ceplosku.

“Aku juga membaca Nietzsche,” tukasnya.

“Dan Nietzsche pemain wanita, meninggal karena raja singa. Kamu mencemooh orang-orang seperti mereka, kan, biasanya? Mereka yang membuatmu membenci humanisme, kan? Untuk apa kamu baca tulisan mereka?”

“Kamu memang lebih hobi membaca biografi, ya, daripada ide-ide besar orang-orang yang kau baca biografinya? Lebih suka menilai buku dari sampulnya, ya?” sahutnya telak.

Aku menyunggingkan senyum ketus untuk menudingnya. “Bukannya kamu yang begitu?”

Humanisme. Pria di hadapanku ini seperti halnya kamus berjalan, atau mungkin penghafal  istilah. Bicara dengannya, aku seolah perlu tahu makna-makna sebenarnya dari kata-kata yang seringkali spontan saja kuucapkan, seperti beda antara Cemetary dan Burial (aku lupa apa perbedaannya) atau loneliness (kesepian) dan aloness (kesendirian). Dan begitulah semua percakapan panjang lebar kami selalu bermula dari kata-kata yang salah kudefinisikan yang lantas ia betulkan. Pernah satu waktu—aku lupa kami sebelumnya membahas apa—dengan mengutip kamus, ia bilang ia bukan seorang humanis. Menurut manifesto para pencipta kata tersebut, makna asli dari kata humanis adalah suatu paham yang menganggap manusia berada di tingkatan kesadaran paling tinggi, di mana para humanis tidak mempercayai keberadaan hal-hal mistis dan juga bahkan tidak pula Tuhan.

Dengan ketat pula, ia masih sangat percaya bahwa laki-laki diciptakan untuk wanita. Ia pernah bilang aku memberitahunya hal-hal tak berguna sewaktu dengan menggebu-gebu aku menjelaskan apa yang kuketahui mengenai QUILTBAG atau LGBT-IQ, Lesbian (orang dengan orientasi pasangan perempuan-perempuan) Gay (pria dengan pria) Bisexual (orientasi seksual bisa dengan wanita ataupun pria) Transexual (orang yang mengubah bentuk tubuhnya dengan gender yang ia harapkan; laki-laki menjadi wanita dan sebaliknya) Intersex (bentuk tubuh yang belum jelas terdeteksi; entah pria entah wanita)  Queer (mempertanyakan orientasi seksual). Ia percaya ungkapan Aristophanes sewaktu penulis Yunani bergenre Komedi itu memberi tanggapan menyoal ‘apa makna cinta’ dalam sidang Plato. Menurut Aristophanes, dahulu Zeus (Tuhan bagi bangsa Yunani) hanya menciptakan satu tubuh manusia dengan dua kepala empat kaki dan empat tangan, hingga kemudian (aku lupa oleh sebab apa) tubuh itu dihukum dan lantas terbelah menjadi pria dan wanita; hukumannya adalah agar tubuh pria dan wanita itu akan saling mencari seumur hidupnya. Dari sanalah kemudian lahir pengertian soul mate, belahan jiwa.

Lantas, pertanyaanku sekarang, kenapa ia masih membaca tulisan dari orang-orang yang ia benci?

 “Untuk apa kamu bawa buku-buku berat itu?” tapi justru ia yang kemudian mempertanyakan buku yang kubawa bersamaku.

Aku melihat apa yang kupegang di tanganku dan aku baru sadar aku mengambil dua buku itu. “Kamu bilang aku perlu membaca buku-buku Teologi lebih banyak?”

“Sudah kamu temukan kitab sucimu?”

Tripitaka, tiga keranjang. Teman seimanku bilang susah kemungkinannya untuk menemukan semua naskah itu, karena besar keranjang dalam kata Tripitaka belum tentu hanya sebuah keranjang kecil, bisa saja keranjangnya sebesar istana.

“Bukan urusanmu. Kenapa kamu tak wisuda hari ini?”

“Untuk apa membuang setengah juta? Aku bisa beli buku-buku yang kusuka dengan uang sebanyak itu, ketimbang ikut wisuda.”

“Jadi kamu selundupkan uang kiriman dari kedua orangtuamu?”

“Kamu masih berpikir aku semanja dirimu yang bahkan untuk kosmetik pun masih minta kepada orangtua?”

Bicara dengannya, aku selalu merasa akan meledak, lalu hancur berkeping-keping karena tak tahu bagaimana cara menyahuti sarkasmenya.

Wednesday, June 29, 2011

[Online's Info] Virginia Apgar



Pernah melihat bayi yang baru saja lahir langsung dibawa ke sebuah tempat khusus, dimandikan, disterilkan, dan dicek keadaannya oleh suster yang ditugaskan untuk menanganinya? Ternyata itu memang adalah prosedur standar yang akan dilakukan oleh tiap petugas kesehatan di seluruh dunia saat mendapati seorang bayi lahir ke dunia pasca proses persalinan.

Proses evaluasi keadaan bayi tersebut sering dikenal sebagai Apgar System, Apgar Test, atau yang umumnya di Indonesia juga dikenal sebagai Nilai Apgar. Nama untuk tes ini, Apgar, diambil langsung dari nama penemunya, seorang dokter wanita spesialis bedah dan anestesi, Virginia Apgar. Apgar System sendiri merupakan serangkaian tes yang digunakan untuk mengecek kondisi bayi yang baru saja dilahirkan. Tes ini dipercayai adalah penemuan yang sangat penting dalam bidang Kedokteran karena sebelum diterapkannya tes ini pada tahun 1949, para dokter ketika itu masih terpaku pada kepentingan untuk mengetahui kondisi keadaan si ibu daripada bayi yang baru saja dilahirkan. Padahal penting diketahui bahwa kematian bayi sebelum 24 jam pasca kelahiran salah satunya bisa jadi disebabkan okeh faktor kurangnya pengetahuan petugas tentang cara mengevaluasi keadaan si bayi.

Apgar, yang ketika itu menempati posisi sebagai dosen dan peneliti dengan targetnya untuk memberikan kontribusi terbaiknya di bidang anestesi, menemukan bahwa pada masa itu para dokter yang menangani proses persalinan seringkali lebih berkonsentrasi kepada keadaan sang ibu pada pasca melahirkan daripada kepada bayi yang baru saja dilahirkan.

Padahal menurut Apgar, satu menit setelah kelahiran sang janin, diperlukan evaluasi lagi untuk menentukan keadaan si bayi. Untuk memenuhi hal ini, Apgar lantas menemukan cara termudah dan terefisien untuk mengevaluasi kondisi sang bayi yang biasanya dilakukan satu menit pasca kelahiran. Dia membuat lima rangkaian tes yang menjadi standar penilaian (berkisar antara nilai 0, 1, 2) untuk mengetahui kondisi sang bayi, dan menurutnya hal-hal yang perlu diperhatikan adalah detak jantung bayi, pernafasan, gerak vibrasi otot, warna pada tubuh sang bayi, dan gerak refleksnya. Hal-hal tersebut sering dikenal dengan singkatan:

A=  Appearence (warna kulit)
P=  Pulse rate ( denyut jantung bayi)
G=  Grimace (respon terhadap refleks)
A=  Activity (kekuatan otot)
R=  Respiratorion (pernafasan)