Aku dan temanku itu berbeda agama. Ia memandang rendah pers mahasiswa dan aktivis kampus, sekalipun aku menggeluti kedua peran itu. Ia kakak tingkatku yang menelantarkan jatah waktu kuliahnya hingga hampir di-DO, sementara aku tetap lebih mementingkan kuliahku di atas segala aktivitas kampus. Kalau kurangkum hal-hal yang selama setahun ini kami bicarakan, aku akan kembali mendapati bahwa hampir-hampir tak ada satu kesamaan pun di antara kami.
Kecuali, ternyata, ketika kami semestinya sama-sama diwisuda di periode yang sama, pada jam-jam di mana seharusnya kami menunggu di gedung kampus dengan aku berpakaian kebaya dan ia rapi dengan jasnya, untuk duduk lama menanti kesempatan pemindahan tali toga, aku justru bertemu dengannya di perpustakaan. Buku-buku lapuk bertumpuk di hadapannya.
Terlepas dari semiliar perbedaan dan satu kesamaan kami yang baru kutemukan hari itu, kami sebenarnya sangat akrab. Aku memiliki banyak panggilan untuknya. Ia bercita-cita menjadi penulis maka kupanggil ia Tuan Penulis, lahir pada Shio Kelinci maka kujuluki ia Kelinci, dan ia selalu mengaku sebagai alien dan kusebut ia Alien. Ia pun demikian, ia memiliki sejuta panggilan untuk peran-peran yang kulakukan dalam keseharianku: Nona Jurnalis, Nona Perdamaian, dan pernah satu kali ia memanggilku Nyonya Alien; meski saat itu ia bilang ia salah sebut.
“Membaca Wilde lagi?” tanyaku, mengambil tempat di hadapannya.
“Kamu tak wisuda hari ini?”
Beginilah bila kami berbicara, aku akan memulai dari A, namun ia tidak akan menjawab B, melainkan Z. Pernah satu kali kupikir hal seperti inilah kelak yang akan aku rindukan dari orang-orang yang kukenal, keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh siapapun lagi.
“Oscar Wilde itu gay, lho,” ceplosku.
“Aku juga membaca Nietzsche,” tukasnya.
“Dan Nietzsche pemain wanita, meninggal karena raja singa. Kamu mencemooh orang-orang seperti mereka, kan, biasanya? Mereka yang membuatmu membenci humanisme, kan? Untuk apa kamu baca tulisan mereka?”
“Kamu memang lebih hobi membaca biografi, ya, daripada ide-ide besar orang-orang yang kau baca biografinya? Lebih suka menilai buku dari sampulnya, ya?” sahutnya telak.
Aku menyunggingkan senyum ketus untuk menudingnya. “Bukannya kamu yang begitu?”
Humanisme. Pria di hadapanku ini seperti halnya kamus berjalan, atau mungkin penghafal istilah. Bicara dengannya, aku seolah perlu tahu makna-makna sebenarnya dari kata-kata yang seringkali spontan saja kuucapkan, seperti beda antara Cemetary dan Burial (aku lupa apa perbedaannya) atau loneliness (kesepian) dan aloness (kesendirian). Dan begitulah semua percakapan panjang lebar kami selalu bermula dari kata-kata yang salah kudefinisikan yang lantas ia betulkan. Pernah satu waktu—aku lupa kami sebelumnya membahas apa—dengan mengutip kamus, ia bilang ia bukan seorang humanis. Menurut manifesto para pencipta kata tersebut, makna asli dari kata humanis adalah suatu paham yang menganggap manusia berada di tingkatan kesadaran paling tinggi, di mana para humanis tidak mempercayai keberadaan hal-hal mistis dan juga bahkan tidak pula Tuhan.
Dengan ketat pula, ia masih sangat percaya bahwa laki-laki diciptakan untuk wanita. Ia pernah bilang aku memberitahunya hal-hal tak berguna sewaktu dengan menggebu-gebu aku menjelaskan apa yang kuketahui mengenai QUILTBAG atau LGBT-IQ, Lesbian (orang dengan orientasi pasangan perempuan-perempuan) Gay (pria dengan pria) Bisexual (orientasi seksual bisa dengan wanita ataupun pria) Transexual (orang yang mengubah bentuk tubuhnya dengan gender yang ia harapkan; laki-laki menjadi wanita dan sebaliknya) Intersex (bentuk tubuh yang belum jelas terdeteksi; entah pria entah wanita) Queer (mempertanyakan orientasi seksual). Ia percaya ungkapan Aristophanes sewaktu penulis Yunani bergenre Komedi itu memberi tanggapan menyoal ‘apa makna cinta’ dalam sidang Plato. Menurut Aristophanes, dahulu Zeus (Tuhan bagi bangsa Yunani) hanya menciptakan satu tubuh manusia dengan dua kepala empat kaki dan empat tangan, hingga kemudian (aku lupa oleh sebab apa) tubuh itu dihukum dan lantas terbelah menjadi pria dan wanita; hukumannya adalah agar tubuh pria dan wanita itu akan saling mencari seumur hidupnya. Dari sanalah kemudian lahir pengertian soul mate, belahan jiwa.
Lantas, pertanyaanku sekarang, kenapa ia masih membaca tulisan dari orang-orang yang ia benci?
“Untuk apa kamu bawa buku-buku berat itu?” tapi justru ia yang kemudian mempertanyakan buku yang kubawa bersamaku.
Aku melihat apa yang kupegang di tanganku dan aku baru sadar aku mengambil dua buku itu. “Kamu bilang aku perlu membaca buku-buku Teologi lebih banyak?”
“Sudah kamu temukan kitab sucimu?”
Tripitaka, tiga keranjang. Teman seimanku bilang susah kemungkinannya untuk menemukan semua naskah itu, karena besar keranjang dalam kata Tripitaka belum tentu hanya sebuah keranjang kecil, bisa saja keranjangnya sebesar istana.
“Bukan urusanmu. Kenapa kamu tak wisuda hari ini?”
“Untuk apa membuang setengah juta? Aku bisa beli buku-buku yang kusuka dengan uang sebanyak itu, ketimbang ikut wisuda.”
“Jadi kamu selundupkan uang kiriman dari kedua orangtuamu?”
“Kamu masih berpikir aku semanja dirimu yang bahkan untuk kosmetik pun masih minta kepada orangtua?”
Bicara dengannya, aku selalu merasa akan meledak, lalu hancur berkeping-keping karena tak tahu bagaimana cara menyahuti sarkasmenya.